TEGAL - Puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 tingkat Jawa Tengah menjadi momentum penegasan peran strategis pers sebagai penjaga kualitas demokrasi. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan pentingnya pers yang sehat, merdeka, sekaligus bertanggung jawab di tengah derasnya arus informasi digital.
Pesan tersebut disampaikan dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, dan Digital Jawa Tengah pada malam resepsi HPN 2026 dan HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Pendopo Ki Gede Sebayu, Kota Tegal, Sabtu (14/2/2026).
Menurut gubernur, pers yang sehat bukan hanya berani mengkritik, tetapi juga mampu menjadi penjernih informasi di tengah maraknya disinformasi.
“Kritik yang konstruktif merupakan vitamin demokrasi. Kontrol sosial yang sehat membuat pemerintah lebih waspada, transparan, dan bertanggung jawab dalam setiap kebijakan, ” tegasnya.
Ia juga mengajak insan pers ikut menyosialisasikan agenda prioritas pembangunan Jawa Tengah mulai percepatan infrastruktur, pengentasan kemiskinan ekstrem, hingga digitalisasi birokrasi agar masyarakat memahami arah kebijakan dan berpartisipasi aktif. Kepercayaan publik, lanjutnya, menjadi fondasi utama keberhasilan pembangunan.
Selain fungsi penyampai informasi, gubernur membuka ruang bagi jurnalisme investigatif yang objektif dan berimbang untuk memastikan proyek strategis berjalan tanpa penyimpangan.
Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono menilai pers memiliki peran strategis tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk perilaku masyarakat serta mendorong promosi potensi daerah.
“Kami mengajak pers menjadi mitra strategis dalam mengangkat potensi Kota Tegal. Berbagai keunggulan sektor wisata dan ekonomi siap dieksplorasi untuk menarik kunjungan masyarakat, ” ujarnya.
Dari perspektif nasional, Sekretaris Dewan Penasihat PWI Pusat Sasongko Tedjo menyoroti tantangan besar yang dihadapi pers di era media sosial dan percepatan arus informasi.
“Pertanyaan yang muncul sekarang, masihkah wartawan diperlukan? Di tengah banjir informasi digital, pers harus menjaga kredibilitas sebagai sumber terpercaya, ” katanya.
Ia menegaskan fungsi pers sebagai clearing house rumah penjernih informasi yang memverifikasi, menyaring, dan mengklarifikasi kabar simpang siur maupun hoaks.
Ketua PWI Jawa Tengah Setiawan Hendra Kelana menambahkan, insan pers juga dituntut beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), tanpa kehilangan nilai kemanusiaan dalam praktik jurnalistik.
“Apakah media akan tanpa manusia, atau justru harus lebih manusiawi? Pertanyaan ini menjadi refleksi penting bagi masa depan pers, ” ujarnya.
Perayaan HPN 2026 berlangsung hangat meski diguyur hujan, ditandai dengan santunan bagi mustahik serta penghargaan kepada delapan wartawan senior asal Tegal. Selain itu, panitia juga menyerahkan hadiah lomba jurnalistik bertema kebangkitan wisata Guci pascabencana, meliputi kategori feature, fotografi, dan video.
Sejumlah PWI kabupaten/kota turut menerima penghargaan atas kontribusi organisasi, menegaskan semangat kolaborasi insan pers di Jawa Tengah.
Dengan rangkaian kegiatan tersebut, HPN 2026 di Tegal meneguhkan kembali posisi pers sebagai pilar demokrasi—penyampai informasi, pengawas kebijakan, sekaligus penjernih kebenaran di tengah era digital yang serba cepat. (***)
